HealthcareUpdate News

Target Tekan Stunting di Bawah 7 Persen, Seberapa Berat Tantangan Indonesia?

Pemerintah menargetkan penurunan stunting hingga di bawah 7 persen, namun kondisi saat ini menunjukkan tantangan besar jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Upaya menekan angka stunting di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Menteri Kesehatan menargetkan prevalensi stunting bisa turun hingga di bawah 7 persen, mendekati capaian negara seperti Malaysia. Target ini dinilai ambisius, mengingat kondisi saat ini masih cukup jauh dari angka tersebut.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 19,8 persen. Angka ini memang menunjukkan penurunan signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya, bahkan untuk pertama kalinya turun di bawah 20 persen, namun masih tergolong tinggi dan menjadi tantangan serius bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Secara jumlah, sekitar 4 juta balita di Indonesia masih mengalami stunting. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tren perbaikan terjadi, masalah gizi kronis pada anak belum sepenuhnya teratasi.

Jika ditarik ke belakang, penurunan stunting di Indonesia memang cukup progresif. Pada 2020 angkanya masih berada di kisaran 26,9 persen, lalu turun menjadi 24,4 persen pada 2021 dan 21,6 persen pada 2022. Namun dalam dua tahun terakhir, penurunannya mulai melambat, menandakan bahwa upaya selanjutnya akan semakin menantang.

Selain itu, persoalan stunting di Indonesia tidak merata. Beberapa wilayah, terutama di kawasan timur, masih mencatat angka sangat tinggi bahkan di atas 30 persen. Ketimpangan ini menjadi salah satu hambatan utama dalam mencapai target nasional secara cepat.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, posisi Indonesia masih relatif tertinggal. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia bahkan sempat menjadi salah satu negara dengan angka stunting tertinggi kedua di kawasan setelah Timor Leste.

Read More  Meski Hidup dengan Diabetes, Produktivitas Tak Terhenti: Inspirasi dari Nick Jonas

Sebagai perbandingan, negara seperti Malaysia mencatat prevalensi sekitar 20 persen, sementara Thailand dan Brunei berada di kisaran 12 persen. Singapura bahkan memiliki angka sangat rendah, sekitar 2–3 persen. Di sisi lain, negara seperti Laos, Kamboja, dan Filipina masih memiliki angka relatif tinggi, namun tren penurunannya cukup konsisten.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa target menurunkan stunting hingga di bawah 7 persen bukan hal yang mustahil, tetapi membutuhkan lompatan besar dalam kebijakan dan implementasi. Negara-negara dengan angka rendah umumnya memiliki sistem kesehatan yang kuat, intervensi gizi yang konsisten, serta dukungan lingkungan yang lebih baik.

Stunting sendiri bukan sekadar masalah tinggi badan anak. Kondisi ini berkaitan dengan kekurangan gizi kronis yang dapat berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas di masa depan. Dalam jangka panjang, stunting juga berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Pemerintah Indonesia selama ini mengandalkan berbagai strategi, mulai dari intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan, peningkatan gizi ibu hamil, hingga program pemberian makanan bergizi bagi anak. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan perubahan perilaku masyarakat.

Target menurunkan stunting hingga di bawah 7 persen menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin mempercepat perbaikan kualitas generasi mendatang. Namun, dengan kondisi saat ini yang masih berada di kisaran 19,8 persen, diperlukan upaya ekstra, inovasi kebijakan, serta pemerataan intervensi agar kesenjangan antarwilayah bisa ditekan.

Dengan kata lain, perjalanan menuju target tersebut masih panjang. Indonesia telah berada di jalur yang benar, tetapi untuk mengejar negara-negara dengan angka stunting rendah, dibutuhkan percepatan yang lebih agresif dan berkelanjutan.

Back to top button